Tasawuf Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah/jasadiah dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan batiniah inilah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan As- Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan sahabatnya.
Lebih jauh, Al-Qur’an berbicara tentang kemungkinan manusia dan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) seperti dalam Q.S Al-Maidah: 54; perintah agar manusia senantiasa bertaubat (At-Tahrim: 8); petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada (Al-Baqarah: 110); Allah dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendaki (An-Nur: 35); Allah mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta benda (Al-Fathir: 5); dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT (Ali Imron: 3).
Begitu juga perintah Allah untuk ikhlas semata mengharap ridha-Nya dalam beribadah (Al-Bayyinah: 5); berperilaku jujur (Al-Anfal: 58), adil, taqwa (Al-Maidah: 6); yakin, tawakal (Al-Anfal: 49); qonaah, rendah hati dan tidak sombong (Al-Isra’: 37); beribadah dengan penuh pengharapan terhadap ridha-Nya (raja’) (Al-Kahfi: 110); takut terhadap murka Allah atas segala dosa (khauf) (At-Tahrim: 6); menahan hawa nafsu (Yusuf: 53); amar ma’ruf nahi munkar (Ali Imron: 104); dan banyak lagi konsep akhlak dan amal diajarkan dalam Al-Qur’an kesemuanya adalah sumber tasawuf dalam Islam.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa inti dari ajaran tasawuf adalah menempatkan Allah sebagai pusat segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya dalam diri manusia sebagai usaha memperoleh keridhaan-Nya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar